Tommy Datam. S.kom

Selamat datang, selamat menikmati, Kami akan memberikan Informasi yang terpercaya dan tepat akuran, sehingga dapat memberikan manfaat bagi setiap orang yang membacanya.

Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dalam hidup anda buatlah diri anda berharga bagi orang lain, kekayaan seseorang bukan di nilai dari harta yang dia miliki di dunia, tapi kekayaan seseorang dilihat dari seberapa besar berharganya diri kita untuk orang lain.

Selamat datang di blog ini, silakan menikmati informasi yang kami sajikan untuk anda silakan Klik Iklan di bawah ini
readbud - get paid to read and rate articles
Berita Terhangat ada disini
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Oktober 2010

DPR Tolak Rencana Kenaikan TDL 2011

Jakarta (ANTARA News) - Ketua DPR Marzuki Alie menegaskan, DPR menolak rencana pemerintah menaikan tarif dasar listrik (TDL) pada tahun 2011 karena masih ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk menekan defisit anggaran PLN.

"Dewan berpendapat bahwa kenaikan itu tidak perlu terjadi karena masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk menutupi kekurangan subsidi," ujar marzuki saat menyampaikan pidato penutupan masa sidang I tahun sidang 2010-2011 DPR di Jakarta, Selasa.

Sebelumnya pemerintah berencana menaikan tarif dasar listrik sebesar 5,4 persen, guna menutupi kekurangan anggaran PLN sebesar Rp4,6 triliun.

Menurut Ketua DPR, berbagai cara yang bisa dilkukan untuk menekan kekurangan subsidi itu diantaranya dengan melakukan penghematan serta efisiensi di tubuh PLN.

"Dewan mencatat, PLN sendiri yang akan melakukan penghematan dari tahun 2010 hingga 2015 dengan dilakukannya efisiensi baik dari sektor pembangkit, pengadaan maupun belanja rutin," ujarnya.

Lebih lanjut Ketua DPR menjelaskan bahwa biaya sosial yang muncul akibat kenaikan TDL itu cukup tinggi. Meskipun kenaikan itu hanya 5,4 persen, tapi opini dari masyarakat akan negatif.

Rakyat, ujarnya lagi, berhak menikmati subsidi dari pemerintah, termasuk penerangan dari PLN. "Jadi walaupun kenaikan tersebut kecil, namun hak rakyat untuk memperoleh energi listrik harus terpenuhi," ujar poliisi Partai Demokrat itu.

Sementara mengenai penerbitan saham tambahan (right issue) PT BNI (Persero) TBk dan Bank Mandiri (Persero) Tbk untuk ditawarkan kepada publik, Ketua DPR menyatakan, Komisi terkait di DPR telah menyetujui rencana Kementerian BUMN itu.

Dewan mendesak agar pemerintah tetap mempertahankan kepemilikan di kedua bank tersebut minimal sebesar 60 persen, di luar atau termasuk opsi kepemilikan saham oleh manajemen/karyawan sesuai dengan keputusan pemerintah.

Selain itu, tentunya pemerintah juga harus mematuhi prosedur dalam proses privatisasi kedua bank BUMN itu dengan mengikuti tatacara privatisasi yang telah diatur dalam UU No 19/2003 tentang BUMN dan PP No 33/2005 jo PP No 59/2009.

"Dewan mengharakan pemerintah untuk mengelola deviden yang ditarik pemerintah secara proporsional dengan memperhitungkan ketersediaan modal kerja dan investasi yang dibutuhkan," ujar Marzuki Alie



Senin, 25 Oktober 2010

Anggota DPR Ditantang Bunuh Diri jika Gagal


JAKARTA - Daripada jauh-jauh belajar etika berpakaian, berbicara, merokok dan etika interupsi ke Yunani, Badan Kehormatan DPR lebih baik belajar etika politik ke Jepang.

Sebab, politisi di Jepang sangat menjunjung tinggi etika sehingga mereka langsung mengundurkan diri atau bunuh diri jika gagal melaksanakan tugas.

Demikian dikatakan Ketua Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang menanggapi studi banding BK DPR.

“Kalau di Jepang bila gagal mengundurkan diri atau bunuh diri. Berani nggak nanti anggota Badan Kehormatan itu pulang dari Yunani misalnya, kalau gagal, bunuh diri. Kalau belajar etika yang tinggi sesungguhnya belajar ke rakyat kita sendiri. Banyak rakyat kita yang memilih bunuh diri daripada mencuri,” katanya dalam diskusi bertajuk Studi Banding DPR, Belajar atau Jalan-Jalan, di Warung Daun, Jalan Cikini Raya, Jakarta, Sabtu (22/10/2010).

Menurut Sebastian, tindakan BK DPR sangat ironis dan memalukan. Sebab, selama setahun belakangan BK 100 persen menganggur karena konflik internal yang tidak pernah terselesaikan. Sementara pengaduan masyarakat menumpuk dan tidak ada yang ditindaklanjuti.

Padahal, seharusnya seluruh anggota BK menjadi teladan dalam bersikap bagi semua anggota DPR sehingga mereka bisa memberi sanksi tegas jika ada yang melanggar aturan.

“Mestinya kalau punya etika mereka menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk itu bukan jalan-jalan ke luar negeri. Badan Kehormatan ini bukan baru ada sekarang tetapi sudah ada dari periode yang lalu dan menyelesaikan banyak persoalan di DPR,” tuturnya.

Masak ke Yunani belajar cara merokok, berpakaian, aduh sudah sedemikian memalukan kah wakil rakyat ini sehingga belajar cara berpakaian saja harus ke Yunani. Katanya di sana tempat kelahiran Plato, Aristoteles. Mereka itu hidup di abad ke berapa? Bahkan Yunani terancam gagal dan terkorup di Eropa,” paparnya lagi.
(lsi)



Ketum Demokrat: Deponeering Keputusan Terbaik


JAKARTA - Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum sepakat dengan keputusan Kejagung menerbitkan deponeering atas perkara Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah.

Menurut dia, opsi tersebut adalah keputusan yang tepat dan terbaik bagi kepentingan publik. Dalam hemat Anas, masing-masing alternatif pilihan, apakah itu deponeering, SKPP baru, atau melanjutkan ke meja hijau, mempunyai argumentasi dan dasar hukum.

“Tetapi deponeering adalah keputusan yang paling sejalan dengan kepentingan umum dan rasa keadilan publik,” ujarnya melalui pesan singkat kepada okezone di Jakarta, Senin (25/10/2010).

Lebih lanjut Anas menegaskan bahwa penerbitan deponeering juga akan mengakhiri drama perkara Bibit-Chandra yang telah berlangsung setahun lebih. “Dengan demikian, perkara ini selesai. Kontroversinya tuntas dan tidak perlu dilanjutkan,” ujarnya.

Dia berharap pascakeluarnya keputusan ini, Bibit dan Chandra bisa kembali berkonsentrasi penuh mengurus tugas-tugasnya di Komisi Pemberantasan Korupsi.

“Sekarang waktunya bagi Bibit dan Chandra untuk kembali konsentrasi pada tugasnya. Kejaksaan Agung telah membuat keputusan yang adil dan tepat,” pungkasnya.
(ful)



Bahasyim Simpan Puluhan Miliar di Bank



JAKARTA - Mantan Kepala Kantor Pajak VII Jakarta Dirjen Pajak, Bahasyim Assifie, kembali menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi.

Saksi yang hari ini dihadirkan oleh JPU adalah Yanti Purnama Sari, costumer relation manager BNI 46 dan kepala kantor pusat BCA. Dalam kesaksiannya, Yanti mengutarakan Bahasyim dan
keluarganya banyak memiliki rekening yang jumlahnya hampir puluhan miliar rupiah.

"Untuk istrinya saja mempunyai tiga rekening yang jumlahnya hampir enam miliar, dan kedua anaknya mempunyai dua rekening dengan jumlah yang begitu besar," ungkapnya dalam persidangan, Senin (25/10/2010).

Yanti juga menjelaskan, terlalu banyaknya jumlah uang yang ingin ditabung di perusahaannya,
sampai-sampai pihak bank mendatangi rumah Bahasyim sebagai bentuk pelayanan.

"Pihak bank pernah mendatangi rumah Bahasyim karena anaknya mau membuka rekening dengan jumlah yang besar. Jadi demi keamanan, pihak kami mendatangi. Bahasyim adalah pelanggan setia jadi harus kami layani dengan baik," tambahnya.

Yanti memaparkan, rekening dengan nama Sri Purwanti (istri Bahasyim) ada tiga, yakni rekening pertama dengan saldo awal Rp100 juta dan saldo akhir Rp41 miliar, rekening kedua saldo awal USD 5.000 dan saldo akhir USD 6.000. Di rekening ketiga saldo awal Rp60 juta dan saldo akhir Rp6 juta.

Sementara untuk anak Bahasyim atas nama Winda Harum Hapsari mempunyai dua rekening yakni rekening pertama saldo awal Rp1 juta dan saldo akhir Rp17 miliar. Rekening kedua dengan saldo awal Rp60 juta dan saldo akhir Rp569 juta.(ram)



Kamis, 21 Oktober 2010

Presiden: Ada Unjuk Rasa yang Ditunggangi


TEMPO Interaktif, Jakarta - Setahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono kemarin diwarnai unjuk rasa di berbagai daerah. Di Ibu Kota, seorang mahasiswa tertembak di kaki saat para pengunjuk rasa bentrok dengan polisi di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Polisi juga mencokok dua orang yang diduga sebagai provokator dari depan Istana Presiden.
Pelor menyengat betis kiri Farel Restu, 21 tahun, mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK), sekitar pukul 15.30. Menurut koordinator aksi, Alit, ada polisi yang sengaja mengarahkan tembakan ke arah mahasiswa pada saat polisi melepaskan tembakan peringatan. "Kami mau kasus penembakan ini diproses," kata mahasiswa UBK ini.
Farel langsung menjalani operasi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Menurut dokter yang merawatnya, ia diduga ditembak dengan peluru tajam. "Bukan peluru karet," ujarnya seraya menutupi identitas.
Kepolisian meminta maaf atas insiden pada pukul 15.30 WIB itu. "Para korban akan dirawat sampai sembuh atas tanggungan kami," ujar Kepala Bagian Operasi Kepolisian Resor Jakarta Pusat, Ajun Komisaris Besar Andry Wibowo, di lokasi unjuk rasa.
Sebelumnya, polisi menangkap tiga mahasiswa di Jalan Kimia yang diduga menyerang polisi, ketika seratusan demonstran dari Aliansi Keluarga Besar Universitas Bung Karno, Stimik, BSI, FM Husnu, dan UIN Syarif Hidayatullah diminta jangan menutup Jalan Diponegoro ke arah Salemba. Namun polisi telah melepaskan ketiganya.
Selain di Jalan Diponegoro, unjuk rasa di Jakarta terkonsentrasi di Bundaran Hotel Indonesia dan di depan Istana Negara. Jumlah demonstran menurut perkiraan polisi sekitar 2.000 orang.
Di depan Istana Negara, polisi menangkap dua orang karena memprovokasi demonstran dengan melemparkan con-block ke arah polisi dan menarik pagar kawat berduri. "Tapi secara umum unjuk rasa berlangsung relatif aman," kata Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Sutarman di depan Istana.
Di Bogor dan Gorontalo, pengunjuk rasa menyetop mobil-mobil berpelat merah. Beberapa kendaraan itu dirusak. Mereka menilai Yudhoyono gagal menyelesaikan kasus-kasus penting, seperti skandal Bank Century dan lumpur Lapindo. Aksi berakhir ricuh. Protes juga berlangsung di Kupang, Samarinda, Palu, Makassar, Medan, Balikpapan, Jambi, Lampung, Palembang, Denpasar, Pamekasan, Malang, Surabaya, Jember, Semarang, Purwokerto, Yogyakarta, Bandung, dan Tasikmalaya.
Menurut Presiden Yudhoyono, beberapa demonstrasi di banyak daerah itu bukan spontanitas, melainkan didesain. "Jangan ada dusta di antara kita," ujarnya kepada radio Elshinta di Kantor Presiden kemarin pagi. Namun ia tak menyebutkan siapa yang mendesain dan berdusta itu.
Presiden berpendapat, demokrasi di Indonesia memang sedang mencari bentuk. Tapi kritik dan kecaman terhadap pemerintah mesti disampaikan tanpa melanggar hukum etika dan tata krama. "Demokrasi yang dikehendaki bukan lautan fitnah, anarkis, merusak yang kita bangun."
Tim Tempo



Longsor, Jalur Jakarta-Bandung Putus


VIVAnews - Jalur Jakarta kemungkinan akan terputus beberapa waktu karena longsor yang terjadi di jalur ini.
Kepala Humas Daerah Operasi (Daop) I PT Kereta Api Indonesia (KAI) Mateta Rizalulhaq menjelaskan longsoran itu memanjang lebih 10 meter di lintas Cikampek - Bandung, Jawa Barat. Tanah pun menutup semua badan rel.
"Karena ada longsoran ini kereta api tertahan dan tidak bisa lewat," kata Mateta saat dihubungi, Kamis 21 Oktober 2010.
Sampai saat ini, kata dia, petugas masih melakukan pembersihan dan tidak diketahui sampai berapa lama jalur ini bisa digunakan kembali. "untuk teknis di lapangan, ini sudah masuk Daop II karena longsor ada di wilayah tersebut," kata dia.



Pramono Anung: Penembakan Mahasiswa Tindakan Berlebihan


TEMPO Interaktif, Jakarta - Wakil Ketua DPR Pramono Anung menilai peristiwa penembakan mahasiswa saat demonstrasi terkait satu tahun pemerintahan SBY-Boediono merupakan reaksi yang berlebihan. "Seharusnya aparat tidak memberika reaksi yang berlebihan kepada mahasiswa,' ujarnya kepada wartawan Kamis (21/10). 
Pramono mengatakan, seharusnya pemerintah berkaca bahwa demonstrasi itu merupakan bentuk kegelisahan masyarakat. Demonstrasi, kata dia, tidak seharusnya dinilai sebagai sesuatu yang mengganggu demokrasi. "Seharusnya pemerintah juga melihat survey tingkat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah yang terus menurun,' katanya.
Sebelumnya, seorang mahasiswa Universitas Bung Karno tertembak di Jalan Diponegoro Jakarta Pusat saat demonstran bentrok dengan aparat. Mahasiswa tersebut tertembak dan menderita luka di kaki. Demonstrasi yang serentak merebak itu mengkritisi peringatan satu tahun pemerintahan SBY-Boediono.
Pramono menjelaskan, jika memang prosedur aparat mengharuskan aparat di lapangan boleh mengeluarkan tembakan saat demonstrasi berlangsung kacau dan berbahaya, "Polisi perlu menjelaskan prosedur itu."
SANDY INDRA PRATAMA



Facebook Diretas, Jimly Asshiddiqie Lapor Polisi


TEMPO Interaktif, Jakarta -  Eks Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie melapor ke polisi karena seseorang telah meretas (hack) akun Facebook miliknya. "Kata kunci akun saya dibobol hacker," kata Jimly usai membuat pengaduan di Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Kamis  siang tadi (21/10).
Jimly mendatangi Bareskrim bersama para pengacaranya. Dalam laporan bernomor 658/X/ 2010/Bareskrim itu Jimly melaporkan seseorang bernama Hendra, yang mengaku telah meretas akun itu. Penyidik menggunakan Pasal 27 jo 45 jo 28 jo 30 Undang-undang Internet dan Transaksi Elektronik.
Jimly menyebut akun Facebook yang dibobol itu bernama Jimly Tiga. Salah satu akun miliknya. Ia mengetahui akun itu telah diganti passwordnya, sekitar bulan September lalu. Karena merasa tidak dirugikan, ia enggan melapor.
Pekan lalu Jimly mulai menerima telepon dari teman-temannya. Yang mencoba bertanya keaslian akun itu. Mereka memang tidak menjadi korban. Tapi Profesor Anto, seorang koleganya, telah menjadi korban. Hendra menjual delapan unit laptop kepada Profesor Anto dengan harga Rp 18 juta. "Laptop itu murah karena si Hendra mengaku itu barang selundupan," kata Jimly.
Jimly mengaku namanya dirugikan dalam kasus ini. Karena itu kemudian mengubah kata kunci dua akun Facebooknya yang lain. Ia menyarankan agar kata kunci tidak mudah ditebak orang lain. "Saat itu saya menggunakan tanggal lahir untuk kata kunci akun saya," katanya.
Mustafa Silalahi



Akun Jimly Dipakai untuk Menipu


VIVAnews - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Jimly Asshiddiqie melaporkan pembobolan akun jejaring sosial miliknya di Facebook ke Bareskrim Mabes Polri. Selama dua bulan terakhir akunnya dibobol dan digunakan untuk menipu teman-teman jejaring sosialnya.
"Dibobol sejak September, modus diketahui sebulan lalu," kata Jimly saat melapor ke Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis 21 Oktober 2010.
Menurut Jimly, dia memiliki tiga akun Facebook. Akun Facebook yang dibobol itu adalah Jimly Tiga. Akibat ulah pembobol itu, Jimly pun sering mendapatkan telpon dari teman-temannya yang telah ditipu. Sehingga, dirinya merasa terganggu.
"Beberapa kali ada yang menelpon saya, ini rupanya digunakan untuk menipu," kata dia.
Modus penipuan yang dilakukan pembobol itu dengan berbagai modus. "Untuk program beasiswa anak yatim, yang paling gawat untuk jual beli laptop selundupan dengan harga cuma 2 juta rupiah per unit," kata profesor tata hukum negara ini.
Menurut dia, sudah ada tujuh temannya yang tertipu. Namun baru satu temannya yang telah tertipu dan kehilangan uang, yaitu temannya dari Manado yang telah kehilangan uang Rp16 juta karena tertipi akun Jimly Tiga. "Ini bahaya, makanya saya memutuskan untuk melapor," tegas Jimly.
Jimly pun mengimbau teman-temannya untuk mengabaikan semua interaksi dengan akun Jimly Tiga tersebut. Selain itu, bagi yang belum berteman, Jimly meminta untuk tidak meminta maupun menerima pertemanan dengan Jimly Tiga. "Jangan sampai tertipu bahwa itu jelas penipuan. Jangan mau di-add atau pun di-confirm, karena saya masih minta bantuan ke reskrim supaya ditutup sama sekali," kata dia.
Laporan itu kini telah dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri dengan nomor laporan LP/658/10/2010. Undang-undang yang digunakan mengusut kasus ini adalah Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.



Panda Siap Diproses Hukum Kasus Cek Pelawat

TEMPO Interaktif, Jakarta - Anggota Komisi Hukum DPR sekaligus tersangka kasus cek pelawat, Panda Nababan menyatakan siap diproses hukum di pengadilan tindak pidana korupsi. "Sebagai warga negara, saya siap dipanggil, diproses hukum. Saya lakukan perbaikan fundamental (pengadilan tipikor) ke depan, meski saya ambil risiko. Ini bukan demi kepentingan pribadi saya," ujar Panda didampingi tim kuasa hukumnya di gedung Mahkamah Agung, Kamis (21/10). 
Kedatangan Panda ke Mahkamah Agung untuk melaporkan lima hakim pengadilan tipikor yang menyidangkan terdakwa Dudhie Makmun Murod. Kelima hakim itu masing-masing Nani Indrawati, Herdi Agustin, H. Acmad Linoh, Slamet Subagio, dan Sofialdi. 
Diterima oleh Ketua Muda Bidang Pengawasan Mahkamah Agung Hatta Ali, maksud kedatangan Panda yakni mencari forum untuk memperoleh keadilan atas nasibnya. Menurutnya, akibat dari putusan kelima hakim tersebut, dirinya sekarang dirugikan. "Majelis hakim memeriksa dan memutus suatu perkara dimana saya bukan sebagai terdakwa dalam perkara tersebut, tapi pertimbangan putusan tersebut merugikan saya," ujarnya. 
Salah satu hal merugikan yang dimaksud Panda, yakni selama ini dirinya tidak pernah ditanya soal cek pelawat sebesar Rp 500 juta. Ketika diperiksa KPK, kata Panda, dirinya tidak pernah ditanya soal cek itu. Selama di pengadilan ia juga tidak pernah ditanya soal cek yang sama. 
Kuasa hukum Panda, Luhut Pangaribuan mengatakan, dalam pertimbangan putusan Dudhie, kliennya seolah-olah dinyatakan sebagai terdakwa, padahal statusnya sebagai saksi. "Dikatakan oleh Pak Hatta Ali itu bisa merupakan unprofessional cunduct. Jadi seseorang itu harus ditempatkan sesuai dengan porsinya. Kalau dia sebagai saksi, dalam pertimbangan putusan harus sebagai saksi, bukan sebagai terdakwa," terang dia. 
MAHARDIKA SATRIA HADI



Pramono Menilai Pemerintah Terlalu Khawatir


TEMPO Interaktif, Jakarta - Pemerintah dinilai terlalu khawatir terhadap demontrasi dan aksi-aksi kritis dari masyarakat memperingati 1 tahun Soesilo Bambang Yudhoyono-Boediono. "Seharusnya aksi itu menjadi semacam introspeksi diri bagi pemerintah," ujar Wakil Ketua DPR dari PDIP, Pramono Anung di Jakarta Rabu (21/10). 
Sebelumnya, beberapa aksi demontrasi terkait kritik terhadap kinerja satu tahun pemerintahan SBY - Boediono serentak digelar di beberapa kota besar di Indonesia. Beberapa diantaranya berlangsung ricuh.
Menurut Pramono, ada beberapa segmen kinerja pemerintahan yang memang perlu mendapat evaluasi. Dia mencontohkan sektor ekonomi, hukum, dan sektor keamanan. "Perhatikan saja survey masyarakat soal tiga sektor itu. Pasti tingkat kepercayaannya menurun," ujarnya.
Pramono juga tidak melihat ada prioritas kinerja dari pemerintahan SBY. "Fokusnya lemah," katanya. Pramono juga menilai bahwa kekhawatiran pemerintah soal aksi unjuk rasa maupun kritik pedas media tidak berdasar. "Pemerintah tidak akan turun gara-gara demo," kata dia.
Sandy Indra Pratama



Pramono: Demo Mahasiswa Tanda Rakyat Gelisah

VIVAnews - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Pramono Anung menyatakan bahwa aksi demonstrasi yang menilai setahun perjalanan pemerintahan SBY-Boediono kemarin sudah berjalan proporsional. Meski di beberapa tempat terdapat keributan, tetapi menurut mantan Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu, tidak mengganggu esensi demokrasi.
"Hanya memang, kalau lihat pada aksi-aksi yang terjadi, ini harus harus jadi introspeksi dan koreksi bagi pemerintah sekarang ini, karena apa yang dilakukan teman-teman mahasiswa dalam aksi yang kemarin menunjukkan kegelisahan dan representasi dari masyarakat. Dan ini juga terbukti dari lembaga survei yang ada menunjukkan adanya penurunan yang cukup drastis dari kepercayaan terhadap pemerintah ini," kata Pram di gedung DPR RI, Jakarta, Kamis 21 Oktober 2010.
Sehingga hal yang perlu dilakukan pemerintah, menurut Pram, adalah melakukan evaluasi dan memenuhi apa yang menjadi keinginan masyarakat, terutama di bid ekonomi, hukum, dan keamanan masyarakat. "Ini prioritas utama yang harus diperbaiki oleh pemerintah," kata Pram.
Mengenai adanya penembakan terhadap mahasiswa yang melakukan aksi demontrasi, menurut Pram, hal itu terlalu berlebihan. "walau yang ditembakkan itu peluru karet, apa pun, kita ini kan negara demokrasi. Sehingga itu beri contoh yang tidak baik," kata Pram.
Menurut Pram, mahasiswa yang melakukan demontrasi kemarin itu membutuhkan ruang untuk mengekspresikan suara hati mereka. Sehingga kalau ternyata upaya ekspresi itu justru ditekan dengan alat kekuasaan, lanjut Pram, hal itu malah akan merugikan pemerintah sendiri.
"Sebab demo yang terjadi kemarin masih wajar-wajar saja. Tidak seperti yang dikhawatirkan pemerintah," kata Pram.
Pram menambahkan, apabila memang masyarakat tidak puas dengan pemerintahan, cara menghukumnya adalah dalam pemilu. "Kalau mau jatuhkan pemerintah, ya lewat pemilu. Kalau memang salah, dihukum, jangan pilih partainya, jangan pilih presidennya," kata Pram.
Kemarin, Lingkaran Survei Indonesia merilis Presiden SBY mendapat penilaian merah di empat dari enam bidang yang disurvei. Presiden hanya mendapat rapor biru atau kepuasan di atas 50 persen untuk bidang sosial (60,2) dan keamanan (63,2).



Marwan: Cirus Dimintai Keterangan di Kejaksaan

TEMPO Interaktif, Jakarta - Tak hanya dua terdakwa kasus mafia hukum, Gayus Tambunan dan Haposan Hutagalung, yang akan diperiksa Kejaksaan Agung hari ini (21/20), terkait bocornya dua surat rencana penuntutan (rentut) Gayus sebelum ia disidang di Pengadilan Negeri Tangerang awal tahun ini.
Rencananya, tim inspektur dari Jaksa Agung Muda Pengawasan juga akan memeriksa sejumlah jaksa, termasuk mantan jaksa peneliti kasus Gayus, Cirus Sinaga. "Pak Cirus juga kita mintai keterangan, di Kejagung langsung," kata JAM Pengawasan Marwan Effendy saat dihubungi wartawan siang ini.
Saat ini, kata Marwan, tiga orang sedang meminta keterangan Gayus di rumah tahanan Mako Brimob Depok. Sedangkan tiga anggota Jamwas lainnya memeriksa Haposan di tahanannya, Polres Jakarta Selatan. "Sudah berangkat dari jam 09.00 tadi. Mungkin sudah mulai."
Marwan menerangkan, kemarin sejumlah jaksa yang diduga terlibat kasus rentut bocor, sudah diperiksa pihaknya. Termasuk Irfan Jaya Azis, Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Tangerang.
Dari pemeriksaan kemarin, Irfan diketahui sudah pernah dimintai keterangan oleh tim penyidik Mabes Polri. Di Mabes, kata Marwan, Irfan mengaku diperlihatkan dua kopian rentut oleh penyidik, juga bukti SMS dari Haposan ke Gayus yang membicarakan rentut.
"Katanya penyidik (rentut) dapat dari Haposan. Saat itu dia tidak lapor ke saya. Saya belum Jamwas. Dia lapor ke Kejari Tangerang," kata Marwan, yang saat itu masih menjabat JAM Pidana Khusus, sementara yang menjabat Jamwas adalah Hamzah Tadja.
Selain Irfan, tim inspektur Jamwas juga memeriksa saksi-saksi lain di Kejaksaan yang bertugas mengecap surat, dan mengirim fax. Dari pemeriksaan itu, kata Marwan, nomor register yang tertera dalam salah satu rentut tidak ada.
"Dia tidak pernah membuat surat tersebut. Itu bukan tulisan dia. Yang asli (rentut) yang hukuman percobaan," ujar Marwan.
Keterangan saksi itulah yang menurut Marwan juga akan ditindaklanjuti tim Kejagung. "Akan diketahui, benar atau nggak. Haposan bekerja sendiri, atau ada oknum Pidum yang membantunya," kata dia.
Kalau dalam pemeriksaan Haposan tak mau mengaku dirinya yang merekayasa rentut? "Nanti hasilnya kami serahkan ke penyidik. Kami gerak cepat supaya cepat tuntas," kata Marwan.
Pada persidangan pekan lalu, Gayus mengaku pernah diperlihatkan dua rentut oleh Haposan. Gayus mengaku, rentut pertama untuknya berisi hukuman satu tahun penjara. Sedangkan dalam rentut kedua, ia dituntut hukuman percobaan. Rentut itu, kata Gayus, ditandatangani oleh Direktur Penuntutan Pidana Umum, Pohan Lasphy, atas nama Jaksa Agung Muda Pidum saat itu, Kemal Sofyan.
Isma Savitri



Gerindra: BURT Harus Tanya Rakyat Soal Gedung Baru


TEMPO Interaktif, Jakarta - Badan Urusan Rumah Tangga perlu membuka aspirasi soal rencana pembangunan gedung baru DPR langsung ke masyarakat. Hal itu diungkapkan Ketua Fraksi Gerindra, Martin Hutabarat di Jakarta Rabu (21/10). "BURT harusnya belajar dari reaksi keras rakyat soal rencana pembangunan itu," ujarnya.
Martin mengatakan, akibat protes keras dari rakyat, fraksi-fraksi di DPR pun mayoritas menolak rencana tersebut. "BURT harus agendakan dengar pendapat langsung dengan masyarakat soal rencana pembangunan gedung," katanya.
Martin menyatakan, hasil dengar pendapat langsung dengan rakyat itu nanti yang perlu menjadi pertimbangan bagi fraksi di DPR untuk memutuskan apa bisa terus berlanjut atau tidak. "Kelompok keras yang menentang pun harus didengar," ujarnya.
Sandy Indra Pratama



MA Akan Bentuk Tim Investigasi Tindaklanjuti Laporan Panda


TEMPO Interaktif, Jakarta - Badan Pengawasan Mahkamah Agung akan membentuk tim investigasi untuk menindaklanjuti laporan Panda Nababan, anggota Komisi Hukum DPR sekaligus tersangka kasus cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Panda melaporkan lima hakim pengadilan tindak pidana korupsi yang menyidangkan terdakwa Dudhie Makmun Murod. Kelima hakim itu masing-masing Nani Indrawati, Herdi Agustin, H. Acmad Linoh, Slamet Subagio, dan Sofialdi. 
Menurut kuasa hukum Panda, Luhut Pangaribuan, dalam pertimbangan putusan Dudhie, kliennya oleh majelis hakim seolah-olah dinyatakan sebagai terdakwa, padahal statusnya sebagai saksi. "Dikatakan oleh Pak Hatta Ali (Ketua Badan Pengawasan MA), itu bisa merupakan unprofessional conduct," ujarnya.
Untuk menyelidiki hal itu, lanjutnya, Badan Pengawasan MA rencananya akan membentuk tim untuk memastikan kemungkinan adanya unprofessional conduct dalam kasus yang melibatkan kliennya. Ia menegaskan bahwa kliennya mendukung pemberantasan korupsi yang penuh integritas. "Tidak boleh ada shortcut, tapi harus ada prosedur dan substansi yang dipertimbangkan secara proporsional," kata dia. 
Patra M. Zein, kuasa hukum Panda, menambahkan bahwa pengadilan tipikor jangan sampai dijadikan alat atau mesin untuk disalahgunakan. "Mahkamah Agung akan membuka seluruh rekaman persidangan tipikor Dudhie, membentuk tim dan melakukan pemeriksaan apakah terjadi unprofessional conduct," ujarnya.
Staf humas Mahkamah, Andris Tristrianto mengatakan Ketua Badan Pengawasan dipastikan akan melakukan tindak lanjut atas laporan Panda. Mahkamah akan membentuk tim investigasi oleh Badan Pengawasan untuk melakukan penyelidikan. "Hasil temuan tim investigasi lalu akan dikoordinasi lebih lanjut, mungkin dengan Komisi Yudisial," kata Andris.
MAHARDIKA SATRIA HADI



Polisi: Demonstrasi Kemarin Masih Terkendali


TEMPO Interaktif, Jakarta - Markas Besar Kepolisian menganggap aksi demonstrasi menyambut satu tahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono masih di terkendali. 
"Secara nasional, unjuk rasa kemarin semuanya masih terkendali," kata Kepala Divisi Humas Inspektur Jenderal Iskandar Hasan kepada wartawan (21/10). Ia menyebut dari pendemo memang ada yang terluka, tapi dari polisi juga ada.
Seorang mahasiswa mengalami luka tembak saat berdemonstrasi di Jalan Dipenogoro, Jakarta Pusat, kemarin. Iskandar menyebut pihaknya masih melakukan penyelidikan apakah itu karena korban penembakan. "Bisa saja karena luka lain," katanya.
Namun tim dari Propam Polda Metro Jaya sudah turun untuk menyelidiki apakah benar ada tembakan secara serampangan. Termasuk mencari selongsong dan hasil visum dokter. Untuk mengidentifikasi pelaku. "Kalau ada (polisi) yang melanggar, akan dihukum," katanya.
Mustafa Silalahi



Isu Ekonomi Jadi Fokus Sidang Kabinet di Bogor


TEMPO Interaktif, Bogor - Isu perekonomian bakal menjadi titik pusat pembahasan dalam sidang kabinet paripurna siang nanti di Istana Bogor. Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha menegaskan sidang tak bakal membicarakan perombakan kabinet.
"Fokusnya dalam bidang perekonomian. Ini kan agenda rapat rutin yang diselenggarakan tiap hari Kamis," ujarnya seusai acara peringatah 50 Tahun Agraria Nasional di Istana Bogor, Kamis (21/10).
Sidang yang akan dimulai pukul 13.00 WIB tersebut, katanya, akan membahas kinerja para menteri bidang perekonomian untuk mencapai targetnya.
Dalam peringatan 50 Tahun Agraria, sebagian besar menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua tampak mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun sebagian lainnya tak kelihatan. Antara lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Saleh serta Menteri Perhubungan Freddy Numberi.
Menurut Julian, ketidakhadiran beberapa menteri itu bukan pertanda mereka akan didepak dari kabinet. "Sebagian sedang bertugas di luar. Sama sekali tidak ada pembahasan mengenai reshuffle kabinet," ucapnya.
BUNGA MANGGIASIH



Usai Peringatan, Sidang Kabinet Digelar


Liputan6.com, Bogor: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri peringatan Hari Agraria Nasional ke-50 di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (21/10). Dalam acara tersebut, Kepala Badan Pertanahan Nasional Joyo Winoto menyerahkan retribusi tanah kepada sebanyak 5141 kepala keluarga di Cilacap, Jawa Tengah.
Rencananya pada pukul 14.00 WIB akan digelar Sidang Kabinet Paripurna yang akan menyoroti isu reshuffle yang timbul pascaperingatan satu tahun pemerintahan SBY-Boediono. Dijadwalkan, para menteri dari Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II akan hadir. Sejauh ini, para undangan yang hadir masih sedikit.
Di luar Istana Bogor tengah berlangsung demo oleh sejumlah elemen masyarakat. Mereka menuntut untuk tahun-tahun ke depan SBY-Boediono lebih mengutamakan nasib rakyat kecil dan kesejahteraan masyarakat. Massa juga menagih janji-janji SBY yang pernah diumbar pada kampanye lalu.
Boleh jadi demo tersebut adalah lanjutan dari unjuk rasa besar-besaran di Jakarta, Rabu (20/10) kemarin. Namun aksi di depan Istana Bogor berlangsung damai.(BJK/SHA)



Presiden Instruksikan Lima Hal Atasi Masalah Pertanahan


TEMPO Interaktif, Jakarta - -Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Badan Pertanahan Nasional menjadi garda terdepan dan pelaku utama dalam pengaturan, penertiban dan mencari solusi dalam permasalahan atas tanah. Di hari Agraria ke-50 ini pula, presiden memberikan lima instruksi kepada institusi tersebut.
"Jemput bola dalam memberikan pelayanan dan mengatasi persoalan tanah, tawarkan diri untuk melayani masyarakat. Pro aktiflah untuk sungguh mencari solusi untuk mengatasi konflik dan sengketa pertanahan. Jangan bermental "yang perlu kan kalian bukan saya,"kata Presiden dalam pidato peringatan hari Agraria ke-50 di istana Bogor, Kamis (21/10).
Selain itu, kata dia, jajaran BPN harus memperluas dan meningkatkan pelayanan, program Layanan Rakyat Sertifikasi Tanah (Larasita) harus benar-benar disukseskan. Target sertifikasi secara nasional pun harus tercapai.
"Saya tahu targetnya tinggi dan masalah sering komplek, tapi usahakan bisa tercapai. Tiap tahun harus ada hasil kongkret yang bisa diukur dan dirasakan masyarakat, yang tadinya tidak ada solusi, tidak bersertifikat, sekarang bersertifikat,"ujarnya.
Keempat, lanjut dia, khusus dalam mengatasi sengketa pertanahan BPN harus berperan lebih maksimal mengatasi dan mencari solusi konflik tersebut. Apalagi memang banyak pihak yang terlibat seperti penegak hukum, masyarakat, komunitas adat. Manakala secara hukum sudah ditetapkan statusnya, harus segera ditindaklanjuti putusan tersebut. "Ini harus jadi pedoman, yang sudah diputus dan inchracht harus dijalankan. Kalau masih ada proses jelaskan kenapa tidak bisa dieksekusi putusan yang telah inchracht itu,"ujarnya.
Terakhir, tambah Yudhoyono, BPN harus mendengarkan kritik dan harapan masyarakat. Jika ada kekurangan BPN juga harus melakukan perbaikan. "Teruslah berkomunikasi dengan masyarakat luas. Saya juga tidak terima kalau BPN sudah melakukan banyak perubahan nyata/reformasi, tapi dianggap tidak ada hasilnya, seolah-olah tidak melakukan apa-apa. Kita harus menegakkan sesuatu yang benar dan adil di negeri ini,"ujarnya.
MUNAWWAROH/BUNGA MANGGIASIH



Anggota Kompolnas: Polisi Harusnya Tak Menembak Mahasiswa

TEMPO Interaktif, Jakarta - Anggota Komisi Kepolisian Nasional, Novel Ali, menyebut polisi seharusnya tidak menembak mahasiswa yang sedang berdemonstrasi. "Polisi tidak pantas menggunakan senjata api untuk demo mahasiswa," katanya lewat sambungan telepon (21/10).
Setiap demonstrasi yang dilakukan mahasiswa, katanya, memang dipenuhi dinamika. Tapi hanya sejauh teriak-teriak kepada anggota, dan melempar aparat dengan barang yang tidak berbahaya. "Ini dinamika anak muda," katanya. Hanya saja, petugas di lapangan kerap menganggap tindakan tersebut sebagai anarki.  
Meskipun sudah sampai pada tahap anarki, kata Novel,  polisi tidak bisa otomatis menggunakan senjata api. Senjata api digunakan bila sudah mengancam nyawa aparat. "Itu juga harus sesuai prosedur, harus ada tembakan peringatan ke udara," katanya.
Seorang mahasiswa tertembak kakinya dalam demonstrasi di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, kemarin. Polda Metro Jaya melansir luka itu akibat peluru dari pistol jenis revolver. Saat ini Propam tengah menggelar penyilidikan terkait insiden ini.
Polisi, kata Novel, harus taat kepada Perkap Nomor 8 Tahun 2009 tentang Prinsip Dasar Penegakan HAM. Meski ia mengakui terkadang polisi di lapangan mengalami dilema. Tapi tetap prinsipnya, kata dia, "senjata api hanya digunakan di dalam keadaan yang benar-benar terancam."
Mustafa Silalahi